Ini sebuah mimpi terindah yang sedang aku alami …
Dan lagi…
Untuk kesekian kali, kesalahan itu membuat aku tersenyum sumringah. Sesungguhnya aku tau, ada seseorang yang menangis dibalik semua kebahagiaanku. Andai saja dia tau.
Ricuh riuh suasana sekitar lapangan hijau yang aku duduki, tidak akan bisa menggoyahkan lamunanku saat ini. Tak cuma sekali pedagang-pedagang asongan itu menghampiri dan menawarkanku minuman dingin. Tapi tetap tak ku hiraukan. Tertalu indah untuk aku akhiri semua saat ini, begitu peka kini persaanku terhadap semua kebahagiaan yang aku munculkan sendiri.
Akhirnya aku disadarkan oleh sebuah tepuak keras di pundakku .
“Apaan sih, bisa dong sedikit sopan sama perempuan.?” Begitu kataku ketika tau seseorang yang menepuk pundakku tadi adalah Westa.
“Alaaaahh, gitu aja marah. Uda dong ngelamunnya, dari tadi di liatin begitu terus. Kaya orang gila tau ga.?!” Jawab Westa sambil mengacak-acak rambutku.
Sejenak kita terdiam, aku tetap melanjutkan lamunanku. Sesungguhnya yang menjadi mimpi indahku saat ini adalah Westa. Westa dan semua cintanya. Cinta yang seharusnya tidak pernah datang kepada kami dalam situasi seperti ini. Cinta yang sangat membingungkan.
“Gimana si Vanni.??” Tanyaku pada Westa.
“Gimana apanya.?? Dia masih baik-baik aja. Cemburu yaa.??” Goda Westa.
“Ya ampun, cemburu sama dia. Ga lah. Aku juga uda ada Vino.” Aku langsung berdiri dan menjauh dari Westa.
“Eh, mau kemana.?? Aku dating kesini sengaja buat ketemu kamu, aku pengen kita ada kepastian soal yang kemarin.” Westa memegang tanganku dan mencegah aku pergi.
Aku langsung melepas tangan Westa dengan kasar, dan berlari meninggalkan dia mematung menatapku berlari.
“Maafkan aku, aku Cuma ga pngen ada yang tersakiti karena kita”
Bbbrrraaaaaaakkkkkkk….
Aku menghempaskan badanku di kasur, tangisku pecah. Sejenak aku larut dalam dilema ini, dalam kebimbangan hatiku. Dalam segenap rasa dan asaku yang berbeda. Kubenamkan kepalaku di dalam bantal dan aku berteriak “WESTA, I WANT YOU. I WANT YOU SO BADLY.!”
Dan aku tetap dalam posisi semula sampai sinar pagi memasuki celah kamarku dan menghangatkan tubuhku. Aku tidak ingin membuka mataku pagi ini, aku takut semua mimpiku berakhir. Dan aku juga tak ingin memulainya lagi.
Sampai dering wekerku berbunyi, mau tidak mau aku harus beranjak dari tempat tidurku.
Aku melaju dengan kecepatan sedang, menghadapi kemacetan yang sudah terlalu biasa untuk sebuah ibu kota. Aku sama sekali tidak berharap untuk bertemu Westa hari ini.
Ttiitiittiitttt…
1 pesan masuk dalam ponselku, belum juga aku selesai berharap agar tidak bertemu Westa. Ternyata dia sudah mengirim pesan singkat ke dalam ponselku.
From: Westa
Aku tunggu kamu di lapangan baseball belakang kampus. Please jangan menghindar, aku perlu bicara banyak tentang kita.
Aku langsung membanting ponsel di jok samping mobilku. Dan semakin nanar aku menatap kemacetan ibu kota ini. Sampai akhirnya, aku berenti tepat didepan pintu kampus.
“Pagi neng Nanda?!” sapa satpam kampus yang sangat mengenaliku.
“Pagi pak.” Jawabku seadanya.
“Langsung parkir tempat biasa ya neng.!”
Aku hanya mengangguk dan membawa mobilku ke tempat parker yang di maksut pak satpam tadi.
Aku merapikan semua isi mobilku dan memasukkannya dalam tas, dan aku turun setengah berlari menuju lapangan baseball belakang kampus. Aku dan Westa memang berada dalam satu Universitas, namun kami berbeda jurusan dan gedung tempat kami belajar. Berharap masalah ini cepat berakhir, walaupun aku harus mersakan keperihan, aku siap. Asalkan aku tidak membuat sakit orang yang menyayangiku.
Ternyata Westa sudah duduk dengan tenang di depan mobilnya…
“Sudah lama.??” Tanyaku sambil ikut duduk di samping Westa.
“Eh, maaf.” Sambil mematikan rokok dan membuangnya puntungnya. “Belum sih, lama amat.??” Protes Westa saat aku datang.
“Namanya juga ibukota, macet. Kecuali bapak kamu Presidennya, mungkin ga macet.” Aku berbicara sambil melotot ke wajah Westa.
“Hahahaha, apa hubungannya.? bisa aja kamu.!” Jawabnya singkat.
“Udalah, ada apa.?? Aku ada kelas pagi hari ini.” Aku benar-benar ingin cepat mengakhiri semuanya hari ini.
“Gimana.?? Apa kita masih bisa.?? Aku benar-benar mencintaimu Nanda. Aku tidak pernah ingin mengakhiri semuanya di sini. Tapi aku harus melakukannya. Ga mungkin kita bisa selamanya menjalain hubungan ini, sedangkan kita sudah mempunyai pasangan masing-masing.” Mata Westa berkaca-kaca, pertanda dia amat terpukul dengan semua ini.
“Aku sudah ga bisa berbuat apa lagi, aku akan mengikuti permintaanmu kali ini. Mungkin ini yang terbaik buat kita”. Kataku datar, aku sudah tidak bisa menahan keperihan yang semakin tajam menusuk-nusuk hatiku. Air mataku sudah tidak dapt dibendung lagi, ini sebuah keputusan yang sangat sulit bagiku. Aku harus mengakhiri semuanya sekarang.
Sesaat kita terdiam, sampai akhinya Westa menarikku dalam dekapannya.
“Maafkan aku sudah membuatmu masuk ke dalam hidupku, membuatmu merasakan keperihan ini. You’re always my prickle rose, Nanda”.
Aku hampir tidak bisa mendengar kata-kata Westa dengan jelas, suaranya berderu beriringan dengan serak tangisnya yang tertahan. Sekali lagi dia berkata…
“Kamu akan selalu jadi mawarku yang berduri, sekalipun kamu mawar tapi kamu membuatku merasakan keperihan duri yang ada pada dirimu, maafkan aku Nanda”. Akhirnya melepaskan pelukannya.
Aku berjalan dengan langkah gontai meninggalkannya, sambil sesekali aku menyapu air mata yang tak berenti menetes di pipiku. Kali ini aku mendapatkan hujaman seribu mata pisau di hatiku, menyayat dan mencabik-cabik hatiku. Aku kehilangan Westa sekarang dan aku harus merelakannya. Selamat tinggal Westa, biarkan ini hanya menjadi kenangan dua hati yang tidak mungkin bisa bersatu.
“Terimakasih buat segalanya, buat kebahagiaan yang selama ini kamu hadirkan buatku. Yes, I’m just your prickle, and always your prickle”.
Dan ini saatnya aku menutup lembaranku tentang Westa dan semua cintanya.


0 komentar:
Posting Komentar